Tuesday, January 20, 2015

Seleb Nonton PK: Seputar Pencarian Tuhan

Awal tahun ini, film PK meraih box office. Artis-artis dalam negeri pun ikut menonton dan berkomentar tentang film yang dibintangi Amir Khan ini.

Olga Lydia ‏@OlgaLy_DIA Jan 16
PK salah satu film terbaik yg pernah saya tonton..tema serius yg dibawakan dengan jenaka..salute!
0 replies 6 retweets 1 favorite

Olga Lydia @OlgaLy_DIA · Jan 17
Nonton PK lagi..kali ini bareng keluarga.. :D
0 replies 2 retweets 2 favorites Joko Anwar @jokoanwar · Jan 9
Pergi deh nonton film PK di bioskop. Saya merekomendasikannya sepenuh hati. :)

Joko Anwar @jokoanwar · Jan 8
Nonton PK, pas filmnya selese penonton tepuk tangan. Musti nonton deh.

PK is a wonderful, WONDERFUL MOVIE! Kalo tahun ini cuman bisa nonton satu film, tonton film ini.
PK adalah alien yang tidak bisa pulang ke planetnya karena remote controlnya dicuri. Dalam pencarian alat itu, banyak manusia yang menyarankan agar PK menanyakan atau meminta kepada Tuhan. Oleh sebab itu, dimulailah misi PK mencari Tuhan.

Tema dan dialog serta idenya sangat menggelitik, antara lain:
"Di manakah Tuhan?"
"Apakah Tuhan perlu dibela oleh umatnya?"
"Apa tandanya seseorang beragama X atau Y? Apakah ada tanda lahir?"
"Apakah untuk berkomunikasi dengan Tuhan perlu seorang agen? (Yang diperankan oleh beberapa pemuka agama)?"
dst dst...


Bonus:
Spoiler
selengkapnya

PK (Pikeey): Kegelisahan Jujur Alien Pencari Tuhan
OPINI | 13 January 2015 | 09:11 Dibaca: 36 Komentar: 0 0

Meskipun mungkin saya terlambat menonton film ini karena sudah ada yang mensharingkan pengalamannya menonton film ini di Kompasiana, tapi baik juga kalau saya tetap berbagi kesan tentang apa yang saya tonton dalam film ini. Setidaknya saya sudah membaca dua review, film PK menertawakan Tuhan dan belajar toleransi dari film PK. Semua mengapresiasi keseruan dan kelucuan film ini. Termasuk bagaimana menertawakan sebuah rasa keberagamaan.

Sekarang, saya ingin melihatnya secara lebih filsafati, filosofis. Memang, kalau mau jujur muatan filsafatnya cukup banyak, terutama berkaitan dengan filsafat ketuhanan dan filsafat agama. Lihatlah pertanyaan ketika PK bingung dengan patung dewa yang dia beli lalu merasa batereinya sudah habis karena sudah tidak efektif bekerja lagi. Lalu PK bertanya, “sebenarnya siapa yang menciptakan? kita menciptakan Tuhan atau Tuhan menciptakan kita?” Mendengar ini, tentu saja saya diingatkan dengan pemikiran Feuerbach. Menurutnya, Agama hadir karena aspirasi yang ada pada diri manusia. Aspirasi ini mendorong batin manusia menuju kepada kesempurnaan. Kesempuranaan itu hadir dalam nilai-nilai ideal seperti kebijaksanaan, cinta kasih tanpa pamrih, perasaan keadilan. Kepercayaan manusia terhadap Allah dalam agama itu berasal dari keinginan hati manusia. Keterbatasan-keterbatasan dalam diri manusia menuntun manusia keluar dari dirinya melalui imajinasinya untuk membayangkan Wujud tertinggi (sempurna) yaitu Allah sendiri. Ludwig Feuerbach bertitik tolak dari pandangan ini untuk menjelaskan bahwa agama sebagai teori proyeksi manusia. Dalam agama sebagai kepercayaan kepada Allah, manusia sebenarnya melemparkan esensi dan sifat-sifatnya sendiri ke luar diri manusia itu sendiri, kemudian memandangnya sebagai entitas yang otonom. Entitas yang otonom inilah yang dianggap sebagai Allah.

Pandangan semacam ini jelas ditolak oleh para penganut agama, termasuk para filosofnya. Kita bisa mencatat nama-nama pemikir ketuhanan seperti Scleiermacher dan Alfred North Whitehead yang hidup sejaman dengan feuererbach. Meskipun bersifat spekulatif, pemikiran mereka bisa dikatakan memberikan sumbangan besar untuk membela keberadaan Tuhan pada era modern. Whitehead dikenal dengan teologi prosesnya yang sangat dipengaruhi oleh fisika terapan dan matematika. Saya tidak akan membahas filsafat ketuhanan ini lebih lanjut karena saya ingin melihat PK lagi.

Bagi saya, meskipun awalnya hanya atau sekedar dianalogkan dengan patung dewa, tapi pertanyaan itu menarik secara filosofis memang, kita itulah yang menciptakan Tuhan atau kita diciptakan oleh Tuhan. Belum lagi kemudian masuk dalam filsafat agama. Suasananya jauh lebih menarik ketika memperbandingkan ulama dan pemuka agama dengan managernya Tuhan. dan memang kenyataanya tampak seperti itu. Masing-masing kemudian membawa Tuhannya sendiri-sendiri dengan manajernya masing-masing. Yang Kristen punya konsep ketuhanannya sendiri, yang Hindu demikian halnya, Yang Buddha samar-samar, yang Islam juga demikian.

Maka bisa menjadi menarik dan menurut saya adegan ini cerdas. Kelapa adalah bagian dalam ritual agama Hindu. PK lalu membawa kelapa dalam liturgi ibadah Katolik. Ternyata di sana hanya ada anggur. PK berkesimpulan bahwa Tuhan sudah bosan dengan kelapa dan ganti anggur. Dia membawa anggurnya ke komunitas Muslim yang menyebabkan dia dikejar-kejar begitu ketahuan membawa anggur yang diharamkan.

Demi pencariannya, yang disimbolkan dengan ‘remote controle dari batu’ PK sepertinya mencoba dan menyelami semua agama. Dia dibabtis, dia sholat, dia ikut ibadah Hindu, bahkan ibadah ala Kristen kharismatik, dan digambarkannya tidak berhasil menemukan Tuhan. Penemuannya justru, pada endingnya, di sebuah kejadian yang tidak disengaja di mana, batu remote controle itu dimuliakan oleh pencurinya dan dijadikan sebagai semacam alat untuk menekan rasa keberagamaan. Peran tekhnologi komunikasi kemudian digunakan untuk membongkar semua usaha manipulasi religiusitas masyarakat.

Ini semacam simbol, bahwa modernitas lebih bisa menyelesaikan masalah daripada keberagamaan manusia. Maka, menjadi semacam pertanyaan, film ini sebenarnya menggambarkan pergulatan yang jujur atau memang sudah ada kesimpulan tersendiri di belakangnya dan sang pembuatnya ingin menggiring penontonnya agar bisa berfikir rasional? Saya tidak mau sampai ke sana. melihat kenyataan yang ada, di mana sekarang peran agama di ruang publik semakin dipertanyakan dengan semakin kuatnya rasionalisme masyarakat, bisa jadi memang film itu menggambarkan pergulatan jujur seorang pencari Tuhan yang digamarkan dengan sosok seorang alien.

Analogi Permainan

Bagaianapun juga, harus diakui secara jujur bahwa kita beragama adalah sebuah proses pewarisan. Entah itu dari orang tua, maupun dari orang lain. Hampir tidak ada yang membawa konsep ketuhanannya sendiri dan pengalamannya. Agama adalah proses memaknai pewarisan itu. Dan sekarang, semakin banyak orang yang berani mempertanyakan apa yang diwariskan kepadanya.

Seperti di dalam film PK yang bertanya-tanya, apa tandanya ketika lahir seseorang beragama apa. Tidak ada. Cara menafsirkan ada bersama kematangan cara berfikirnya, kedewasaannya, dan mungkin juga kesempatan yang dia terima untuk bisa kritis terhadap apa yang dia yakini. Penafsiran yang matang, salah satunya memang dengan analogi permainan semacam ini. Analogi permainan adalah salah satu cara penafsiran yang menjadi kelanjutan dari distansiasi (pengambilan jarak) dan kritik ideologi.

Analogi permainan dari metodenya Paul Riceour ini diibaratkan oleh Haryatmoko seperti permainan sepakbola antara tim dosen dengan tim mahasiswa. Dalam permainan itu, hilanglah batas-batas antara seorang dosen dengan seorang mahasiswa. Keduanya sama-sama bermain. Yang mahasiswa, ketika harus berebut bola dengan dosennya tidak mungkin menyerahkan bolanya begitu saja, “monggo pak dibawa ajah bolanya…” sebagai tanda hormat.

Demikian halnya dengan analogi permainan seperti dalam film PK itu. Semua pemuka agama perannya sama, sebagai manajernya Tuhan. Dan Tuhanpun perannya sama seperti film-fim pada umumnya, objek pembahasan yang kadang ditertawakan dan seperti dilecehkan. Untuk sampai pada taraf semacam itu, memang harus dilalui sebuah proses yang bisa melihat secara jernih ideologinya, keyakinannya, dan juga kebertuhannya. Umumnya, pencarian Tuhan dengan menjajal semua agama adalah hal yang dilarang. Hari ini saya mengucap syahadat, besoknya saya dibabtis, besoknya saya menjadi hindu. Masing masing agama menjadi semacam jalan menuju Tuhan. sebagai jalan, tentu belum sampai kepada Tuhan itu sendiri.

kritik ideologi baru bisa terjadi manakala orang mau secara jujur mengkritisi apa yang selama ini dia yakini. Menurut hermeneutika ini, begitulah orang akan sampai pada penafsiran yang objektif. Bahwa saya beragama, saya harus bisa membaca secara jernih agama saya.

Dan pemutaran film ini, sepertinya mendapat momentnya dalam peristiwa Charlie Hebdo. Semuanya penafisran dan di atas semua penafsiran itu, semestinya ada yang lebih dikedepankan daripada pemahaman kita sendiri, apa itu? menghargai Allah yang membiarkan diri-Nya sebagai misteri tanpa harus melukai orang lain.

Blog Archive